Logika vs Perasaan

August 11, 2009 at 12:41 (Development Program, Survival) (, )

=======================================================================

Kalau anda pernah membaca buku-buku yang membandingkan psikologi pria dan wanita, seperti: Man are from Mars, Woman are from Venus atau Why Man don’t listen and woman cant read maps, anda akan kurang lebih bisa menyimpulkan dari buku-buku itu, bahwa salah satu hal mendasar yang menengarai perbedaan pria dengan wanita adalah penggunaan logika dan perasaan dalam setiap hal yang mereka alami.

Mostly (saya katakan mostly, daripada anda mendebat dan membuktikan saya salah), pria akan lebih sering berfikir dan bertindak dengan menggunakan logika yang ada, fakta-fakta yang ada dan jelas, serta mempertimbangkan semua kemungkinan-kemungkinan yang bisa muncul. Wanita sebaliknya, perasaan lebih diutamakan, kebenaran dan norma hakiki yang ada bisa jadi lebih dipilih dan mengesampingkan logika yang mungkin terbaik untuk dilaksanakan.

Pernah ada satu materi kepemimpinan yang saya pelajari, berjudul manajemen wacana, dan dari pelatihan ini, saya menyimpulkan (secara pribadi), bahwa ketika berbicara mengenai manajemen wacana, janganlah mempercayai siapapun (tidak peduli sedekat dan sepenting apapun orang lain tersebut), dan bahkan sebisa mungkin jangan juga mempercayai diri sendiri.

Kenapa terkadang kita tidak bisa mempercayai diri sendiri??
1. Karena (bahasa kerennya) What u’ve see is what u’ve get. Pikiran kita seringkali menggunakan input dari panca indra kita dalam menentukan sesuatu. Apa yang anda lihat, dengar, cium, dan rasakan (saya lewati penjilatannya :p) akan menentukan apa yang anda simpulkan di pikiran anda.
2. Karena ada kalanya anda sudah terhegemoni dengan pandangan-pandangan ataupun norma-norma dari keluarga/masyarakat di sekitar anda sejak anda kecil, sehingga hal-hal itu, prinsip-prinsip itu sudah menjadi suatu kebenaran hakiki buat anda, tanpa mengetahui asal mula dan sebab dari norma/pandangan tersebut.

Terus jikalau tidak seorangpun bisa kita percaya, dan kita juga tidak bisa mempercayai pengertian kita sendiri, terus bagaimana?

Saatnya me-manage wacana.

1. Kumpulkan semua wacana (entah benar atau tidak, entah fakta atau isu, entah dari kawan atau lawan).
2. Lihat dari semua sudut pandang yang memungkinkan, apapun permasalahannya (lihat dari sudut agama, politik, sejarah, ekonomi, dll) walaupun mungkin tidak berhubungan secara langsung. Saya ambil contoh, ketika Marthin Luther mulai menentang kekristenan pada masanya (secara agama dia memang terlihat menyalahi norma agama yang berlaku), tapi jika kita lihat dari sejarah (dan sudah terbuktikan) maka saat itu memang cukup salah pandangan kristen yang berlaku (penjualan surat penghapusan dosa, dll)
3. Tarik garis yang mungkin bisa terhubung dari wacana-wacana tersebut, dan putuskan apa yang menurut anda paling benar dan masuk akal.

Nah, karena saya pria, dan saya juga sudah belajar materi manajemen wacana tadi :p tentunya anda akan dengan mudah menyimpulkan bahwa saya adalah penganut logika. Apapun yang tidak sesuai dengan logika yang saya terima akan saya tolak. Prinsip ini adalah prinsip yang kurang lebih sama yang digunakan oleh motivator-motivator ataupun pendebat-pendebat dalam kehidupannya. Just follow the logic, and u’ll live (or win).

And it works, and it works. Tapi satu yang cukup saya bingungkan saat ini, bahwa ternyata ada juga permasalahan yang logika saja tidak cukup, perasaan harus diinvolvekan disana, dan bisa jadi hasil akhir dari perdebatan logika dan perasaan tadi, tidak hanya berbeda, tapi bisa bertentangan 180 derajat.

Then what??

Ini saatnya orang akan berbicara ke anda: Follow your instinct. Follow where your heart goes to. Let God speaks to you and lead you.

Eits, (tapi tenang dulu buat anda-anda yang mendalami tentang agama), anda pasti akan mendebat saya, let God decide through your heart. Karena akan cukup sulit bagi orang awam untuk membedakan apakah itu benar arahan dari Tuhan, ataukah hanya perasaan kita saja yang lebih didominasi rasa iba dan kasihan, rasa takut, rasa sungkan, dan rasa hormat ke seseorang?? Banyak faktor yang bisa mengganggu kemurnian dari insting ini.

Dan kalaupun semisal insting anda tadi murni (tidak dipengaruhi oleh beberapa hal yang saya sebutkan sebelumnya) apakah pikiran anda akan siap dan menerima dengan itu?? (dalam artian ketika insting dan perasaan anda bertentangan dengan hasil logika yang anda simpulkan di depan, can you let it go??)

Jujur. Saya belum tahu jawabannya. Dan ini akan kembali ke pribadi anda masing-masing.

Kesimpulan saya?? Selamat memilih dan menjalaninya (apapun pilihan itu).

=======================================================================

Advertisements

2 Comments

  1. aries said,

    memang benar perempuan cenderung menggunakan perasaan daripada logika tapi ada kalany perasaan itu justru lebih kuat daripada logika
    misal,seorang ibu merasa terjadi sesuatu pada anaknya dengan pertanda foto anaknya terjatuh,dan pada kenyataanya memang terjadi sesuatu pada anknya
    Nah jika ada hal semacam ini apa yang lebih kuat??perasaan ataukah logika??
    karena jika kita nalar bisa saja foto tersebut jatuh karena angin atau rersenggol sesuatu??
    bagaimana kita seharusnya menyikapi??

  2. Sonix said,

    Contoh yang anda berikan berbeda topiknya. Perasaan yg dimaksud dalam topik ini adalah perasaan mengenai cara pengambilan keputusan, sedangkan yg anda tanyakan lebih berhubungan ke “myth”, yang dimana tidak bisa disambungkan dengan logika ataupun perasaan dalam topik ini. Semoga menjawab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: