SBY-Boediono

May 16, 2009 at 19:25 (Indo View) ()

=======================================================================

Dari ketiga calon presiden, saat ini SBY dinilai paling mantap sebagai pemimpin Indonesia. Jenderal yang berwibawa dan bersahaja. Ketegasan dan kepemimpinan militer dia, diimbangi dengan figurnya yg sangat santun dalam pembawaannya, bisa dibilang merupakan syarat pemimpin yang diinginkan oleh masyarakat. Dibandingkan dengan pemerintahan Soeharto s/d Megawati, SBY sungguh memberikan perubahan yang berarti. Stabilitas politik dan keamanan tercapai, demokrasi dan suara masyarakt tidak lagi terkungkung, peraturan dijalankan secara tegas, berikut juga pemberantasan korupsi yang bisa dikatakan tidak lagi tebang pilih.

Dengan rekannya JK (saat itu) pertumbuhan ekonomi pun meningkat dengan tajam, pembangunan dan modal usaha digelontorkan dengan penuh kepercayaan baik dari modal pemerintah, swasta, maupun asing. Pasangan yang serasi (SBY-JK), dengan dukungan 2 partai besar saat itu (Demokrat-Golkar) yang mampu dengan cukup telak mengalahkan Mega-Hasyim di pemilu 2004. Pasangan yang mampu memberikan stabilitas lengkap pada setiap aspek kenegaraan. Poleksosbudhankam. Politik (dicapai dengan bertemunya 2 partai besar Demokrat-Golkar), Ekonomi dan Sosial (entreprenaur JK yang tidak perlu diragukan), Budaya (aspek sekunder), serta Pertahanan dan Keamanan (background militer SBY).

Sayangnya kepentingan politik yang abadi, membuat 2 pasangan ini harus berpisah di pemilu 2009. Demokrat (walaupun kehilangan dukungan dari Golkar) yang mendapatkan dukungan besar dari PKS, PKB, PPP, PAN dan + 17 partai kecil lainnya (total persentase suara 49,17% dan persentase legislatif 56,07%, kedua nilai yang menakjubkan), sepertinya tidak menemui keraguan untuk memenangkan pemilu presiden dengan telak (bahkan mungkin cukup dengan 1 putaran). Tapi dengan 21 partai pendukung, siapakah yang layak mendampingi SBY? 19 nama diajukan dan SBY diberi mandat dan dipercaya untuk memilih sendiri cawapresnya dengan beberapa kriteria yang harus dipenuhi. Muncullah nama Boediono.

Boediono, seorang profesional, ekonom, pengajar, dan lebih aneh lagi non-politicians, mengejutkan Indonesia (terutama 21 partai pendukung). Dari 19 nama yang diajukan partai-partai tersebut, SBY lebih memilih seorang yang non simpatisan partai. Tanda tanya diajukan, keberatan disampaikan, kritik dilemparkan, bahkan ancaman mencabut dukungan diberikan (dari partai besar pemenang pemilu). Tapi SBY tidak bergeming. Sampai pada akhirnya SBY dan Demokrat berhasil meyakinkan pilihannya kepada partai-partai pendukungnya.

Kenapa harus Boediono? Penulis mencoba memberikan 2 analisa sebagai berikut:

  1. SBY trauma terhadap JK. JK yang walaupun mampu melengkapi kehebatan SBY, tapi JK cukup menjadi musuh dalam selimut pula bagi SBY. Tidak jarang berbagai kebijakan yg diputuskan keduanya saling bertentangan dan saling tidak memperdulikan satu dengan yang lain. Menginjak pemilu legislatif, keduanya saling mengklaim keberhasilan pemerintahan sebagai kesuksesan diri dan partainya sendiri. Puncaknya ditandai dengan hasil Rapimnas Golkar yang menyatakan JK sebagai capres yang akan diajukan, berikut juga dengan bercerainya SBY-JK.
  2. SBY butuh seorang yang ahli ekonomi dalam menggantikan tugas JK. Nama-nama yang diajukan partai pendukung SBY memang sangat kompeten dalam politik, memang sangat menjual (dalam artian tokoh terkenal) dalam pilpres, sangat menguatkan dukungan partai, tapi mampukah mereka memberikan sumbangsih yang sama seperti JK? Bisa jadi, jika SBY salah memilih, keberhasilan ekonomi yang ditunjukkan dalam 2004-2009 tidak lagi akan ada, investor-investor akan meragukan stabilitas ekonomi, bahkan dengan krisis global mungkin juga akan kembali menjatuhkan perekonomian kita. Boediono dianggap mampu untuk mengisi posisi tersebut.

Terlepas dari pandangan umum bahwa Boediono adalah antek IMF yang akan membawa Indonesia menjadi neo-liberalisme (meninggalkan prinsip ekonomi kerakyatan), tapi penulis mencoba memandang dari sisi lain. Ketika deklarasi (walaupun penulis juga men-sayang-kan kefoya-foyaan penyelenggarannya), penulis melihat sosok Bung Hatta dalam diri Boediono. Hatta yang juga tidak terlalu aktif dalam politik, tapi kecerdasan dan kemampuan ekonominya sangat hebat, sangat mampu melengkapi kepemimpinan dan kehebatan politik Bung Karno saat itu.

Bung Hatta yang jarang berbicara (sama seperti Boediono yang cukup gagap dalam pidato deklarasinya) tetap bisa memberikan dan membangun ekonomi bangsa saat itu. Boediono yang memiliki dasar pendidikan yang sama (terbukti dari kemampuannya sebagai Gubernur BI, ekonom dan pengajar pula) diyakini oleh SBY bisa membantu SBY dan Indonesia keluar dari krisis ini dan membawa perekonomian Indonesia maju lebih baik.

Jadi bisakah SBY LANJUTKAN tugasnya tanpa JK?? Mestinya tidak. Yang SBY bisa adalah LANUTAN (lanJutKan – JK). Tapi benarkah dia tidak bisa?? Belum tentu. Pasangan militer-non militer (ekonomi), partisipan politik-non partisipan partai akan mencoba menjawab tantangan tersebut. Semoga Boediono sebagai figur Hatta dalam pemerintahan mampu memberikan value yang dibutuhkan oleh SBY, sehingga SBY Berbudi bisa membawa Indonesia menjadi lebih baik, terutama dalam stabilitas poleksosbudhankam.

Wacana lainnya? Baca JK-Wiranto atau Mega-Prabowo

Back to Basic?

=======================================================================

Advertisements

9 Comments

  1. Yudi C. Kurniawan said,

    Sekedar mau meralat informasi yang keliru dalam pemaparan anda Bung Sonix. =) Pada Pilpres 2004 yang lalu, setahu saya yang mendampingi Capres Ibu Megawati Soekarnoputri sebagai Cawapres-nya bukanlah Bapak Hamzah Haz seperti yang anda utarakan, melainkan Bapak Hasyim Muzadi. Semoga ralat saya juga tidak keliru dan sesuai dengan konteks yang anda maksudkan. Maklum, saya juga awam politik sama seperti anda. Tetapi, harus saya sampaikan bahwa ulasan politik anda cukup menarik dan menggunakan sudut pandang yang relatif netral. =)

    Berkarya terus Bung, demi Allah dan demi Indonesia…

    “di sanalah kita berdiri, menjadi pandu ibuku…”

  2. Sonix said,

    Noted Pak, Noted and revised. Maaf, sedikit salah memori otak ini dengan wapres sebelumnya :p

  3. DayChi said,

    kok sby gak ma mega aja se…ben damai gitu lho…
    kyke ya sama2 bagus tu kalo mereka disandingkan berdua…tp mana ada yg mau ngalah buat jadi cawapres ya…
    hum….

  4. Sonix said,

    Hmm, cukup sulit. Karena dari ke 5 dari 6 capres/cawapres itu, sebenarnya running for the precidency.. Hanya Boediono yang tidak. So?? If there’s no best option, which one is the best from the rest?

  5. JUWARA said,

    hidup SBY…wakakakakakakakak

  6. gboth said,

    Klo jk di sebut musuh dalam selimut pada masa SBY. Trus SBY di sebut sebagai apa pada saat pemerintahan IBU MEGA???

  7. Sonix said,

    Frankly speaking, sebenarnya cukup tidak bisa disebut apa-apa, kenapa? Karena SBY pada masa Megawati dia bertindak sebagai team dari kabinet Mega yang strukturnya dia dibawah Mega. Sehingga decision maker nya tetap Mega, dan keberhasilan SBY sebagai Menteri juga dianggap keberhasilan Mega.

    Berbeda sedikit dengan JK, JK yang bertugas sebagai wapres, dari sisi decision maker itu sendiri, dia memiliki hak dan kewenangan dalam pemerintahan (terutama di deal awal mereka berdua, dimana SBY concern ke stabilitas polhankam, sedangkan JK concern ke ekonomi). Deal awal itu yang akhirnya SBY juga tidak berani men-say no terhadap keputusan-keputusan wapres saat itu. Deal itu pula yg menyebabkan keberhasilan JK diklaim sebagai bukan pencapaian SBY.

    I’m open for further discussion 🙂

  8. 030607 said,

    Hmm.. Saya juga bukan orang yang aktif dalam politik. Saya hanya seorang mahasiswa biasa. Jujur saja saya sedang berpikir untuk memilih mereka pada pemilu nanti. Beberapa alasan saya:

    1. Saya melihat SBY sebagai seorang nasionalis yang benar-benar memikirkan yang terbaik untuk Indonesia dan tidak memikirkan kepentingan pribadi, mengapa? Karena sebenarnya jika ia ingin menang pemilu dengan mudah, ia tinggal memilih salah satu dari nama-nama cawapres yang diajukan padanya. Pilihan ini mudah, rasional bagi mayoritas masyarakat, mudah diterima masyarakat. Tapi siapa yang ia pilih? Seseorang yang menurutnya terbaik untuk mendampinginya, seseorang di luar partai, seseorang yang cukup membuat banyak orang ragu. Tapi ia tetap pada prinsipnya.. Salah satu hal positif lagi.

    2. Saya pribadi merasa pemerintahannya selama ini baik. Indonesia mengalami peningkatan dalam berbagai bidang. Memang tidak drastis, tapi saya rasa hal-hal seperti perekonomian, pendidikan, pemberantasan korupsi memang bukan hal yang mudah untuk diubah secara langsung. Kebiasaan buruk selama puluhan tahun tidak dapat diubah 5 tahun saja. Saya rasa ia membutuhkan waktu lagi untuk memperbaiki negeri ini.

    3. Saya suka ketegasan SBY. Contohnya saat ia memarahi anak buahnya saat rapat apabila mereka tertidur, ngobrol sendiri,dll (silahkan browse di youtube). Ini serius! Hehehe..

    Tapi sekali lagi saya hanya seorang mahasiswa biasa. Pendapat saya mungkin bisa salah, akan tetapi saya dapat berdoa supaya Indonesia mendapatkan pemimpin yang terbaik periode berikutnya.
    Tq..

  9. Sonix said,

    Beuh, bingung nie mau reply apa.. hehehehe..

    Thanks untuk commentnya, i think its a good added comment to the people who read this comment.

    My comment:
    1. Like I said, itu karena trauma SBY, dia memilih Boediono, dan dari ke6 capres-cawapres, malah Mega dan Prabowo yang dirasa bernasionalisme paling tinggi. Mega sudah disiksa secara politik pada jaman Soeharto, dan Prabowo dihakimi pada masa pelanggaran HAM, tapi keduanya tidak kabur dan menyerah.

    2. Correct !! No comment.

    3. Dibandingkan SBY, JK lebih sering menunjukkan ketegasannya kepada bawahannya (baik saat di tivi maupun tidak), as his subordinate, jika JK udah marah, pilihannya adalah doing it, or out of it (dipecat JK maksudnya), read also Diskusi Capres-Kadin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: