Mega-Prabowo

May 16, 2009 at 19:28 (Indo View) ()

=======================================================================

Megawati? Masih layakkah dia memimpin bangsa ini?

Prabowo? Masih layakkah dia menjadi tokoh Indonesia, dengan status tersangka HAM pada rezim orba?

Keduanya berkharisma, itu yang pasti. Megawati dengan kharisma Soekarno menunjukkan eksistensi yang bisa dikatakan benar-benar hebat. Perjuangannya yang dimulai dari PDI saat itu, dipenuhi tantangan yang sangat berat dari pemerintahan orde baru. Dikungkung, diancam, bahkan tragedi Kudatuli (Kudeta 27 Juli) menghiasi perjuangan Mega menyuarakan suara rakyat. Tapi Mega tidak menyerah, Mega tidak berhenti, dan Mega tidak takut dalam terus berjuang.

Perjuangan itu pun berbuah manis, walaupun mengisi kekosongan kursi Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Mega berhasil menjadi tokoh no 1 di Indonesia saat itu. Kekalahan dia dari SBY-JK di 2004 juga tidak menyurutkan langkahnya untuk kembali berjuang di pemilu 2009 sebagai capres. Tapi masihkah rakyat percaya Mega?

Bung Karno mengatakan, Jas Merah, Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Sejarah yang pernah diukir oleh Mega sebagai presiden, Mega yang saat itu menjadi tokoh terhebat bangsa, tokoh yang diyakini mampu merubah bangsa ini layaknya Soekarno, ternyata hanya mampu begitu-begitu saja. Kehebatan dan konsistensi perjuangan Mega ternyata tidak diimbangi oleh kemampuan pemerintahan yang hebat pula. Kharakter wanita dia membuat banyak keputusan pemerintah didasari atas perasaan bukan logika. Pilihan untuk diam dalam menghadapi sesuatu, membuat rakyat meragukan kepemimpinan pemerintahannya.

Sepertinya Mega terlalu mempercayakan kharisma ayahnya dalam perjuangannya. Dan lebih anehnya lagi, walaupun Mega tidak setuju atas otoriter Soeharto saat itu, sepertinya PDI-P sendiri tidak meregenerasikan kepemimpinannya. Puluhan tahun Mega dan PDI-P (PDI ketika orba) berjuang, kursi presiden pernah diduduki, tak ada nama lain yang disebut-sebut akan menggantikan Mega.

Terlepas dari non-regenerasi itu, perjuangan kerakyatan Mega tak perlu diragukan, basis-basis pendukungnya akan siap mati demi Mega, tidak akan sedikit pun merubah pilihan akan Mega.

Basis pendukung yang siap mati juga dimiliki oleh Prabowo, dengan dasar kerakyatan yang sama (wong cilik, petani, pedagang pasar, dll) kharisma Prabowo mulai diperhitungkan. Pidato-pidatonya dalam pemilu legislatif membuat dia sebagai salah satu calon yang paling disegani oleh tokoh politik kebanyakan, bahkan pinangan-pinangan untuk mejadi wapres terutama ditujukan kepada dia. Pidatonya membangkitkan semangat, mengajak masyarakat kembali mempunyai harapan atas Indonesia dan pemimpinnya. Ajakan yang selama ini cukup jarang muncul dari tokoh politik lainnya. Kehebatan inilah yang diyakini mampu mengambil hati swing-voters (mereka yang belum menentukan pilihan) untuk memilih Prabowo.

Tapi, sudah bersihkah Prabowo dalam kasus pelanggaran HAM dalam orde baru? Ataukah masyarakat dipaksa lupa demi kepentingan politik belaka?

Prabowo yang dinilai aktor dalam kerusuhan 1998, dinilai sebagai salah satu pelaku pelanggaran HAM terbesar di abad 20, tidak hanya perusakan materiil, tapi juga pelecehan terhadap suku/ras tertentu. Seharusnya dia diadili, bukan dipilih jadi wapres.

Tentang ini, analisa penulis diberikan dalam hal berikut:

  1. Prabowo sudah menjawab hal itu dalam wawancara ekslusifnya dengan salah satu tv. Penulis menyimpulkan wawancara itu secara gamblang, Prabowo mengatakan: “Saya adalah seorang militer. Saya melakukan apa yang diperintahkan, walaupun mungkin hal itu tidak benar untuk dilakukan. Tapi rezim yang berkuasa saat itu menuntut saya melakukan tugas, apapun itu. Dan saya melakukannya“
  2. Dalam wawancara yang sama pula, Prabowo dengan tegas menyatakan, bahkan korban HAM saya saat itupun sekarang mendukung saya dalam Gerindra.

Terlepas dari kerusuhan yang menuju pada suku/ras tertentu, Prabowo dipercaya Mega untuk mendampinginya. Hal ini yang semoga juga menghilangkan keraguan pemilih untuk memilih Prabowo. Kenapa? Karena sejak orde baru juga, Mega dan PDI (saat itu) lah, satu-satunya diantara 3 partai saat itu yang selalu berjuang demi suku/ras yang pada akhirnya mengalami kekejaman 1998. Jadi dari sudut pandang ini, wacana suku/ras yang mengurangi nilai Prabowo, terhapuskan oleh kharisma Mega.

Mega-Prabowo, kedua pasangan yang memiliki nasionalisme paling tinggi jika dibandingkan pasangan lainnya. Perhatian terhadap rakyat, kelemahlembutan dan tipikal gender wanita Mega, semoga diimbangi dengan ketegasan dan kepemimpinan militer Prabowo, dan membawa Indonesia kembali berjaya dengan kharisma keduanya.

Wacana lainnya? Baca JK-Wiranto atau SBY-Boediono

Back to Basic?

=======================================================================

Advertisements

4 Comments

  1. DayChi said,

    hm…gak ngerti apa2 se…tp kbodohan kl mega memilih prabowo sbg psangannya…hufff….
    pdhl ak masi mendukung ibuk mega..meski dia agak plin plan…kesleo kalo ngomong..

  2. Sonix said,

    Kebodohan? Jika dibilang pemilihan cawapres, saat ini cawapres mega paling powerful dibandingkan yang lain lho, blm lagi kemampuan orator dari prabowo yang saat ini dianggap menakutkan, karena dia bisa mempengaruhi swing voter (kurang lebih 10% total suara) dan mereka yg golput saat pemilihan partai (bisa mencapai 20-30 juta suara)

  3. motivasi259.blogspot.com said,

    commend 127 luar biasa dahsyat artikel anda sangat bermanfaat bagi saya. dan jangan lupa berkunjung ke situs saya.

  4. Sonix said,

    Thank you, pujian anda merupakan kehormatan bagi saya 🙂 ok, saya akan main tar kesana 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: